Suatu hari saya dikenalkan oleh abang saya dengan teman-nya, kita mulai beberapa kali terlibat perbincangan. namun saya lebih merasa seperti sedang di interview di perusahaan, kamu kerja dimana? kamu tinggal dimana? kamu tinggal sama orang tua atau tinggal sendiri? kamu anak ke berapa? kamu asli mana? Lah.. tapi ada benarnya juga orang itu, namanya berkenalan ya seperti ini, kenal semuanya hahaha. sampai akhirnya kita tidak lagi terlibat perbincangan, mungkin kalau menurut perusahaan saya tidak memenuhi kriteria-nya untuk di lanjutkan seperti, : terlalu kekanankan, manja, tidak serius, dan sepertinya belum memikirkan masa depan, dan wajahnya tidak seperti Luna Maya. hahahahaha
ada satu pertanyaan yang saya rasakan adalah kebingungan saat menjawabnya. "kamu asli mana nit?" bila di runut dari awal, sulit untuk menentukan saya asli dari mana.
Berawal dari mamah yang berdarah Solok dan Bukittinggi dan saya menyimpulkan bahwa mamah Asli Minangkabau, sementara Ayah saya sulit untuk mendefinisikannya walau dia selalu mengaku orang Betawi, namun bila di lihat kebelakang kenyataannya tidaklah sesuai. menurut cerita, Kakek saya percampuran Arab dan Pekalongan, sementara Nenek Cina dan Citayam. namun Kakek dan Nenek besar di Kampung Melayu (Bukit Duri tanjakan) dan Ayah lahir dan besar disana. alhasil mereka kental dengan budaya Betawi, walau leluhur mereka bukanlah asli kota Batavia.
so.. bila muncul pertanyaan " Kamu asli mana nit?" saya akan menjawab sesuka hati sesuai dengan keadaan hati. "Dari Betawi", "Dari Bukittinggi", " Betawi Padang", atau "Saya orang Indonesia."
Bila dirinci lebih teliti, saya memiliki banyak darah keturunan yang mengalir di dalam diri saya.
1. Minang 50%
2. Jawa (Pekalongan) 12.5%
3. Cina 12.5%
4. Arab 12.5%
5. Sunda (Citayam) 12.5%
Jadi bila ada yang bertanya kamu asli mana nit?
" saya Orang Indonesia."
Friday, September 11, 2015
Thursday, September 10, 2015
Fall In Love (Bandung)
Entah mengapa saya sangat menyukai Kota Bandung, walau baru dua kali ke tempat ini. tapi Kota Bandung adalah destinasi yang harus saya kunjungi.
" kenapa harus Bandung sih Nit? Mainstream banget ih. setiap weekend kota ini padat sama pendatang dari kota-kota terdekat untuk menghabiskan akhir pekan di Kota ini."
yak betul terlalu mainstream sih.. tapi ya mau agaimana lagi. saya terlanjur jatuh cinta dengan kota ini. bahkan someday saya berharap bisa tinggal di kota ini.
alasannya bukan karena disini banyak distro, karena saya bukan pencinta belanja.
1. Banyak makanan yang unik-unik sepertinya orang Bandung terlahir menjadi kreatif. ada-ada saja makanan - makanan aneh, tapi setelah di makan rasanya nagih terus.
2. saya suka naik angkutan umum (walau macet di beberapa titik, tapi suka aja) sempet ngeri sih setelah nonton serial preman pensiun, menyaksikan trio copet yang beraksi di angkutan umumnya. tapi intinya sih asalahkan kita selalu waspada, dan tidak menggunakan sesuatu yang menarik perhatian insya allah aman-aman saja.
3. suatu hari saya ikut Tes CPNS di kota Bandung, karena dapat waktu tes pagi-pagi jadi saya harus bermalam di kota ini. karena saya tidak pernah naik kereta antar kota, saya merengek ke mamah agar besok kita pulang menggunakan kereta. (padahal banyak mobil travel yang langsung sampai dekat rumah).
setelah Check in di hotel, saya dan mamah berencana pergi ke stasiun Bandung untuk mencari tiket untuk besok.
keluar dari hotel kami berdua harus menyebrang jalan untuk naik angkutan umum ke stasiun, sore itu cukup ramai kita sedikit kebingungan karena mobil terus ramai jadi kita menunggu sampai jalan sedikit lengang. saat baru melangkah, jalanan kembali ramai. ada satu kejadian yang membuat saya terkejut, tiba-tiba seorang pengendara motor berhenti di tengah jalan merentangkan tangannya agar mobil kendaraan di belakang berhenti. lalu pengendara motor itu memberi aba-aba agar kami bisa menyebrang dengan selamat. saya perhatikan tidak ada bunyi klakson dari kendaraan yang terpaksa harus berhenti. stelah kami berdua selesai menyebrang kendaraan jalan seperti biasa.
bayangkan kalau di Jakarta? (no coment deh... hahhhaa)
intinya sih, hampir di semua tempat pasti memiliki keunikan masing-masing. dan mulai merasakan keasikan traveling ke tempat-tempat baru.
sayangnya dokumentasi saat saya mengunjungi kota Bandung ini hilang karena memory card yang terkena virus.
" kenapa harus Bandung sih Nit? Mainstream banget ih. setiap weekend kota ini padat sama pendatang dari kota-kota terdekat untuk menghabiskan akhir pekan di Kota ini."
yak betul terlalu mainstream sih.. tapi ya mau agaimana lagi. saya terlanjur jatuh cinta dengan kota ini. bahkan someday saya berharap bisa tinggal di kota ini.
alasannya bukan karena disini banyak distro, karena saya bukan pencinta belanja.
1. Banyak makanan yang unik-unik sepertinya orang Bandung terlahir menjadi kreatif. ada-ada saja makanan - makanan aneh, tapi setelah di makan rasanya nagih terus.
2. saya suka naik angkutan umum (walau macet di beberapa titik, tapi suka aja) sempet ngeri sih setelah nonton serial preman pensiun, menyaksikan trio copet yang beraksi di angkutan umumnya. tapi intinya sih asalahkan kita selalu waspada, dan tidak menggunakan sesuatu yang menarik perhatian insya allah aman-aman saja.
3. suatu hari saya ikut Tes CPNS di kota Bandung, karena dapat waktu tes pagi-pagi jadi saya harus bermalam di kota ini. karena saya tidak pernah naik kereta antar kota, saya merengek ke mamah agar besok kita pulang menggunakan kereta. (padahal banyak mobil travel yang langsung sampai dekat rumah).
setelah Check in di hotel, saya dan mamah berencana pergi ke stasiun Bandung untuk mencari tiket untuk besok.
keluar dari hotel kami berdua harus menyebrang jalan untuk naik angkutan umum ke stasiun, sore itu cukup ramai kita sedikit kebingungan karena mobil terus ramai jadi kita menunggu sampai jalan sedikit lengang. saat baru melangkah, jalanan kembali ramai. ada satu kejadian yang membuat saya terkejut, tiba-tiba seorang pengendara motor berhenti di tengah jalan merentangkan tangannya agar mobil kendaraan di belakang berhenti. lalu pengendara motor itu memberi aba-aba agar kami bisa menyebrang dengan selamat. saya perhatikan tidak ada bunyi klakson dari kendaraan yang terpaksa harus berhenti. stelah kami berdua selesai menyebrang kendaraan jalan seperti biasa.
bayangkan kalau di Jakarta? (no coment deh... hahhhaa)
intinya sih, hampir di semua tempat pasti memiliki keunikan masing-masing. dan mulai merasakan keasikan traveling ke tempat-tempat baru.
sayangnya dokumentasi saat saya mengunjungi kota Bandung ini hilang karena memory card yang terkena virus.
Wednesday, September 9, 2015
Asal Muasal Nama Mayangsari
Belakangan ini ramai pemberitaan dengan nama-nama unik di Indonesia, mulai dari "Tuhan", "Saiton", bahkan "Satria Baja Hitam" yang cukup menghebohkan beberapa media ini, sedikit intermezo di tengah-tengah hiruk pikuknya negara ini karena harga dolar yang naik turun, lalu anggota DPR yang bertemu dengan Donald Trump dan lain-lain.
kembali ke persoalan NAMA. yak, nama-nama tersebut memang terdengar menggelitik, mungkin orang tua mereka memiliki maksud tersendiri memberikan nama seperti itu.
contohnya adalah saya, saat lahir sempat terjadi perdebadat keluarga perihal pemberian nama saya. awalnya mamah ingin memberikan nama yang sama seperti nama belakang dokter kandungan yang sudah membantu proses kelahiran saya dengan harapan suatu hari nanti saya bisa seperti beliau. namun karena nama tersebut tidak sesuai dengan ideologi keluarga saya, alhasil terjadilah perdebatan antara om, mamah, dan ayah.
setelah masuk keruang perawatan, mamah menonton televisi dan menyaksikan acara musik dan artis Mayangsari sedang bernyanyi, saat itu artis tersebut sedang naik daun. alhasil mamah memutuskan memberi nama belakang "Mayangsari", dan di setujui oleh keluarga lainnya.
Jadilah nama "Anita Dwi Mayangsari", Anita karena nama kakak saya Anisa kata mamah sih agar terlihat jelas kalau kita kakak beradik, dan mamah berencana kalau memiliki anak laki-laki akan di beri nama "Andika" tapi sayangnya saya tak sempat memiliki adik.
Sedangkan Dwi, karena saya adalah anak kedua. sempat muncul pertanyaan kenapa nama kakak tidak ada nama Eka sementara kakak adalah anak pertama, mamah tidak menyukai nama Eka karena dia pernah punya anak murid bernama Eka, dan anak itu bandel dan suka bermasalah mamah tidak mau kakak bandel seperti muridnya itu.
Dan terakhir Mayangsari, setelah perdebatan yang cukup membuat mamah bingung, akhirnya saya di beri nama itu. nama yang muncul setelah menonton televisi.
dan waktu terus berlalu, saat masuk sekolah saya ingin sekali di panggil Mayang. menurut saya nama Mayang itu sangat feminim, dan cantik. mamah sempat merasa keberatan karena di keluarga besar saya lebih familiar di panggil Adek, atau ade nita (oleh tetangga dan teman main). tapi akhirnya mamah mengalah dan mengizinkan saya di panggil Mayang saat disekolah walau menurut mamah nama tersebut sangat asing ditelinganya.
Saat kelas 3 SD, waktu itu sedang booming sinetron Tersayang, dimana tokoh utama-nya bernama Mayang (Jihan Fahira) dan Dion (Anjasmara) bahkan Topi mereka yang berwarna biru dan pink sempat menjadi trend, hampir semua teman-teman saya memiliki topi tersebut warna pink untuk anak perempuan dan warna biru untuk laki-laki. Kecuali saya yang tidak tertarik memiliki topi itu, saat itu kakak saya sangat tergila-gila dengan MTV dan anti sinetron jadi sejak kecil saya tidak suka menonton sinetron hingga saat ini sehingga saya tidak berminat memiliki topi itu.
apalagi, karena nama saya sama dengan tokoh sinetron itu, hampir setiap hari di sekolah saya selalu di sapa, " Mayang... Dionnya kemana?" awalnya saya biasa-biasa saja, tapi lama kelamaan jadi menyebalkan. karena apa yang mereka tonton di sinetron itu akan di kaitkan dengan saya di sekolah.
saya sempat mengadu ke mamah untuk bilang ke guru supaya teman-teman tidak mengganggu saya dengan tokoh sinetron yang mereka tonton, tapi mamah menyuruh saya untuk cuek saja.
" diemin aja! nanti juga capek sendiri.", " biarin aja, kan kamu jadi terkenal"
saya pun mengikuti saran mamah, supaya cuek dan masa bodoh. kalau ditanya, " Mayang... Dion-nya kemana?" kadang saya menjawab, " Dion-nya kecebur dilaut", " Dion-nya lagi ke luar negeri." sampai sinetron itu berakhir, dan mereka lupa dengan tokoh-tokoh sinetron itu.
tidak hanya itu saja, ketika SMP kelas 3 ada sinetron ramadhan yang judulnya apa saya lupa, pemeran-nya adalah Krisdayanti yang berperan sebagai (Mayang) dan pemeran lainnya ada Ramzy. seingat saya saat itu Ramzy berperan sebagai orang minang, yang sering memanggil Mayang dengan sebutan "Uni Mayang". dan terjadi lagi, di sekolah teman-teman memanggil saya Uni Mayang. tak menjadi suatu masalah karena kebetulan saya juga memiliki darah minang, so.. saya biasa saja saat orang menyapa saya "Uni Mayang"
pada awal-awal masuk SMA muncul lagi pemberitaan tentang kasus rumah tangga artis yang menjadi inspirasi mamah memberikan nama, "Mayangsari" saat saya SMA pemberitaan tentang artis tersebut masih samar-samar, pernah suatu hari saat pendaftaran SMA nama saya di panggil oleh Panitia untuk memberikan formulir pendaftaran. ketika nama saya di sebut, "Anita Dwi Mayangsari" seketika ibu-ibu yang mengantarkan anak-nya menyoraki kakak, kebetulan waktu itu yang mengambil formulir bukan saya. entah apa maksud ibu-ibu tersebut bersorak setelah nama saya di panggil. sementara mereka biasa-biasa saja saat nama lain di panggil.
Dan saat pemberitaan tentang artis itu menjadi jelas, pada awal-awal masuk kuliah saya yang hanya memiliki nama sama oleh merasakan dampak dari pemberitaan tersebut.
"wah kamu kan yang .......... istri orang" (pasti mengerti lah maksud bagian yang kosong itu?),
" dasar kamu ............. istri orang"
dan seperti sudah terbiasa ketika masalah yang sama saat SD, saya pun menganggap santai orang-orang yang berkata seperti itu.
"woalah.. yo daripada urusin urusan orang mending urus diri sendiri aja dulu." kata saya pada suatu saat.
sempat kesal sih, bahkan sempat protes ke mamah kenapa harus memberikan nama itu?
" mana mamah tau kalau begini ujungnya?" seru mamah.
kenapa orang yang berbuat sesuatu, sementara kita yang memiliki kesamaan yang tidak disengaja itu juga menjadi bulan-bulan?
menyalahkan orang itu? loh apa hak saya? setiap orang pasti memiliki permasalahan sendiri, dan didunia ini sudah menjadi hal yang wajar bila terjadi kesamaan yang tidak di sengaja, huruf alfabet cuma A sampai Z, angak cuma 0 sampai 9, tangga nada do sampai do, bumi itu bulat, jadi sudah menjadi hal yang lumrah kalau ini semua terjadi.
so.. nikmati aja, kalau saya sih mengambil sisi positif dan membuang sisi negatif dari artis yang memiliki nama sama dengan saya itu.toh manusia di bumi tak ada yang sempurna, yang sempurna hanya Allah SWT semata.
hayo yang memiliki nasib sama dengan saya mana suaranya??
Note: tulisan ini murni curhatan saya saja, mohon maaf bila ada pihak-pihak yang kurang berkenan.
Sunday, March 29, 2015
Heels Hitam
Gemericik air mulai terdengar bertautan dengan genting, suara dendangan terdengar merdu namun memilukan hati. derap langkah heels, yang beradu dengan lantai maremer tedengar di seluruh penjuru ruangan.
hanya ada dia, heels 14cm berwarna hitam, dan satu buah buku berisikian 500 lembar halaman yang belum sempat di bacanya. seketika ruangan menjadi dingin, menusuk hingga tulang. ia merapatkan flanelnya berharap tubuhnya menjadi hangat.
hingga waktu yang di tentukan, yang di tunggu tak kunjung datang. ia terus memandangi heels 14cm yang sudah di kenakannya hampir setahun.
tepat, setahun ia mengenakan heels itu. pemberi heels itu tak pernah datang lagi. menghilang, bagaikan partikel debu yang di hembuskan ke udara.
dilepasnya heels yang telah menyiksanya itu, lalu di masukkan heels tersebut ke dalam pembakaran cerobong asap. benda itupun menghilang, sama seperti pemiliknya. menghilang tak bersisa.
Lalu, di kenakannya kembali sneakers kesayangannya. menemani langkahnya dengan nyaman tanpa rasa sakit.
hujan mulai reda, buku sudah selesai di baca, kelabu berubah menjadi mentari yang menghangatkan.
kadang kita melakukan sesuatu yang jelas sekali menyakitkan diri kita sendiri, hanya karena ingin membahagiakan orang lain. namun saat yang di bahagiakan tiba-tiba pergi tak berkabar. lalu kita tersadar, bahwa selama ini kita terjebak oleh rasa bahagia yang bias. karena ia telah hilang, tak berwujud.
bagaikan embun yang menempel di keca jendela saat hujan. namun saat mentari datang ia hilang tak tersisa.
hanya ada dia, heels 14cm berwarna hitam, dan satu buah buku berisikian 500 lembar halaman yang belum sempat di bacanya. seketika ruangan menjadi dingin, menusuk hingga tulang. ia merapatkan flanelnya berharap tubuhnya menjadi hangat.
hingga waktu yang di tentukan, yang di tunggu tak kunjung datang. ia terus memandangi heels 14cm yang sudah di kenakannya hampir setahun.
tepat, setahun ia mengenakan heels itu. pemberi heels itu tak pernah datang lagi. menghilang, bagaikan partikel debu yang di hembuskan ke udara.
dilepasnya heels yang telah menyiksanya itu, lalu di masukkan heels tersebut ke dalam pembakaran cerobong asap. benda itupun menghilang, sama seperti pemiliknya. menghilang tak bersisa.
Lalu, di kenakannya kembali sneakers kesayangannya. menemani langkahnya dengan nyaman tanpa rasa sakit.
hujan mulai reda, buku sudah selesai di baca, kelabu berubah menjadi mentari yang menghangatkan.
kadang kita melakukan sesuatu yang jelas sekali menyakitkan diri kita sendiri, hanya karena ingin membahagiakan orang lain. namun saat yang di bahagiakan tiba-tiba pergi tak berkabar. lalu kita tersadar, bahwa selama ini kita terjebak oleh rasa bahagia yang bias. karena ia telah hilang, tak berwujud.
bagaikan embun yang menempel di keca jendela saat hujan. namun saat mentari datang ia hilang tak tersisa.
Saturday, March 14, 2015
Hobby (dream come true)
Saat orang bertanya, "hoby kamu apa nit?", dengan lantang dan gagah berani gue menjawab. "Membaca, Menulis, dan Menggambar."
Membaca merupakan hoby gue sejak kecil, tentunya buku bacaan yang lebih spesifik gue baca adalah. Novel, Kumcer, beberapa tokoh sejarah, dan buku teks berbahasa inggris ( sesering apapun gue membaca tulisan berbahas inggris, tetap saja bahasa inggris gue sangat buruk. mungkin akibat polusi udara yang membuat kinerja otak gue melemah? hellooowww.. akibat polusi atau memang dasarnya gue IQ gue tiarap? hahaha)
Menulis, ada yang bilang kalau suka membaca pasti bisa menulis. pada dasarnya semua manusia bisa menulis, kalau tidak bisa menulis? apa kata dunia??? hahaha
okey, sedikit serius.. (sedikit? cuma sedikit?)
okey, Banyak serius..
banyak macam tulisan, dengan berbagai kriteria. seperti menulis formal, dan non formal. menulis fiksi atau non fiksi.
nah, gue termasuk orang yang suka menulis non formal, dan menulis fiksi, oh iya, dan juga gue sangat jago menulis status FB, Path, BBM, terutama saat galau, dan melankolis.. hahhaah
Menggambar, ya gue sangat suka menggambar. tapi bukan berarti gambar gue itu bagus. seperti karya Affandi, Diela Maharani, Popo, hingga Basuki abdullah. gambar gue hanya, gambar gambar miris hasil karya gue saat bosan, kesal, marah, dan ngantuk. gue bisa menggambar apa saja, dimana saja, selama ditangan gue ada pulpen, pensil, atau apapun yang bisa di jadikan alat menggambar. hingga teman gue beberapa kali marah, karena di setiap sudut bukunya terdapat goresan-goresan cantik anita. hahhaa
namun, semua itu semua hanyalah hoby. kesukaan gue yang dilakukan saat senggang, atau hanya menghibur diri. namun saat Hoby bergeser manjadi sesuatu hal yang serius, seperti menjadi pekerjaan. masihkah, hoby tersebut menjadi penawar rasa jenuh, penghilang stress, dan penghibur pelipur lara?
jawabannya adalah, kita tidak akan pernah tahu bila belum mencoba.
Membaca merupakan hoby gue sejak kecil, tentunya buku bacaan yang lebih spesifik gue baca adalah. Novel, Kumcer, beberapa tokoh sejarah, dan buku teks berbahasa inggris ( sesering apapun gue membaca tulisan berbahas inggris, tetap saja bahasa inggris gue sangat buruk. mungkin akibat polusi udara yang membuat kinerja otak gue melemah? hellooowww.. akibat polusi atau memang dasarnya gue IQ gue tiarap? hahaha)
Menulis, ada yang bilang kalau suka membaca pasti bisa menulis. pada dasarnya semua manusia bisa menulis, kalau tidak bisa menulis? apa kata dunia??? hahaha
okey, sedikit serius.. (sedikit? cuma sedikit?)
okey, Banyak serius..
banyak macam tulisan, dengan berbagai kriteria. seperti menulis formal, dan non formal. menulis fiksi atau non fiksi.
nah, gue termasuk orang yang suka menulis non formal, dan menulis fiksi, oh iya, dan juga gue sangat jago menulis status FB, Path, BBM, terutama saat galau, dan melankolis.. hahhaah
Menggambar, ya gue sangat suka menggambar. tapi bukan berarti gambar gue itu bagus. seperti karya Affandi, Diela Maharani, Popo, hingga Basuki abdullah. gambar gue hanya, gambar gambar miris hasil karya gue saat bosan, kesal, marah, dan ngantuk. gue bisa menggambar apa saja, dimana saja, selama ditangan gue ada pulpen, pensil, atau apapun yang bisa di jadikan alat menggambar. hingga teman gue beberapa kali marah, karena di setiap sudut bukunya terdapat goresan-goresan cantik anita. hahhaa
namun, semua itu semua hanyalah hoby. kesukaan gue yang dilakukan saat senggang, atau hanya menghibur diri. namun saat Hoby bergeser manjadi sesuatu hal yang serius, seperti menjadi pekerjaan. masihkah, hoby tersebut menjadi penawar rasa jenuh, penghilang stress, dan penghibur pelipur lara?
jawabannya adalah, kita tidak akan pernah tahu bila belum mencoba.
Thursday, March 12, 2015
Cuma (CALEG) gagal
Suatu hari, gue melintas di jalanan yang letaknya tidak jauh dari rumah. kebiasaan gue saat pulang kerja adalah, memakai earphone. padahal gak ada lagu yang gue dengar.
waktu itu ada beberapa orang sedang duduk bersama, saat gue melintas mereka melihat gue. lalu mereka berbisik, lebih tepatnya sih BERSUARA.karen gue dapat dengan jelas mendengar perckapan mereka.
" itukan caleg ya?" ujar salah satu orang sebut saja bapak A.
" iya.. itukan caleg" sahut Bapak B.
" iya, caleg gagal." lanjut Bapak A, di sambut tawa mereka berdua.
gue pun melirik kearah mereka, sambil menggerakan mulut. seolah sedang bernyanyi (nyanyi? dengerin lagu? iya.. lagu senyap hahaha). mereka pun seolah tak peduli, dan tentunya tidak mengetahui bahwa gue mendengar percakapan mereka dengan jelas.
sudah beberapa kali, gue mendengar ucapan CALEG GAGAL. baik dalam bentuk ucapan secara langsung, sindiran, atau kasus yang terjadi pada bapak-bapak rumpi diatas.
what should i do?
setelah penghitungan suara selesai, dan gue fix gagal menjadi anggota legislatif. beberapa sahabat gue, memberikan support yang intinya, meminta gue untuk tetap semangat, dan jangan bersedih.
mungkin mereka takut, nasib gue sama seperti beberapa teman yang gagal, kalau gak berakhir di rumah sakit jiwa, kantor polisi, atau batu nisan.. hiii...
sejak awal, gue menempatka diri untuk tidak banyak berharap. dan tentunya, setelah mengetahui penghitungan suara? yak.. gue biasa-biasa saja.. (sumpah.. gak bohong)
Faktor yang menyebabkan gue biasa aja adalah :
1. hello.. gue masih muda, gagal masih ada kesempatan lain.
2. setelah gue masuk kedalam ruang lingkup dunia tersebut, dan gue semakin yakin isn't my world ( alasannya kenapa? cukup gue dan keluarga gue yang metal-metal yang tahu, hahah)
so...
beberapa waktu setelah penghitungan selesai, gue masih mendengar ledekan-ledekan dari orang sekeliling.
seperti nama gue di ganti menjadi caleg, " caleg mau kemana?" " ah bisa aja caleg nih", atau kalau gue melakukan kesalahan mereka bilang, " aduh.. calek gagal salah mulu. lo stress ya gak kepilih jadi caleg?".
gue tahu, di lubuk hati mereka paling dalam. tidak ada maksud untuk menghina gue. hanya saja gue ingat kata-kata dari teman gue si Gayung. "di balik tawa kita, pasti ada orang yang teraniaya".
gue teraniaya? mungkin kalau orang yang punya perasaan sensitif akan merasa teraniaya atau tersinggung.
kalau gue? sabodo teuing kalo kata akang-akang sunda.
intinya sih, gue muda, 23 tahun (saat itu), dan gue sudah melalukan sesuatu yang belum tentu terpikir oleh anak muda seperti gue.
dan menanggapi percakapan bapak-bapak rumpi tadi, gak apa-apalah jadi "CALEG GAGAL" dari pada jadi "MANUSIA GAGAL" (sedih deh plincess.. :( hehehe)
waktu itu ada beberapa orang sedang duduk bersama, saat gue melintas mereka melihat gue. lalu mereka berbisik, lebih tepatnya sih BERSUARA.karen gue dapat dengan jelas mendengar perckapan mereka.
" itukan caleg ya?" ujar salah satu orang sebut saja bapak A.
" iya.. itukan caleg" sahut Bapak B.
" iya, caleg gagal." lanjut Bapak A, di sambut tawa mereka berdua.
gue pun melirik kearah mereka, sambil menggerakan mulut. seolah sedang bernyanyi (nyanyi? dengerin lagu? iya.. lagu senyap hahaha). mereka pun seolah tak peduli, dan tentunya tidak mengetahui bahwa gue mendengar percakapan mereka dengan jelas.
sudah beberapa kali, gue mendengar ucapan CALEG GAGAL. baik dalam bentuk ucapan secara langsung, sindiran, atau kasus yang terjadi pada bapak-bapak rumpi diatas.
what should i do?
setelah penghitungan suara selesai, dan gue fix gagal menjadi anggota legislatif. beberapa sahabat gue, memberikan support yang intinya, meminta gue untuk tetap semangat, dan jangan bersedih.
mungkin mereka takut, nasib gue sama seperti beberapa teman yang gagal, kalau gak berakhir di rumah sakit jiwa, kantor polisi, atau batu nisan.. hiii...
sejak awal, gue menempatka diri untuk tidak banyak berharap. dan tentunya, setelah mengetahui penghitungan suara? yak.. gue biasa-biasa saja.. (sumpah.. gak bohong)
Faktor yang menyebabkan gue biasa aja adalah :
1. hello.. gue masih muda, gagal masih ada kesempatan lain.
2. setelah gue masuk kedalam ruang lingkup dunia tersebut, dan gue semakin yakin isn't my world ( alasannya kenapa? cukup gue dan keluarga gue yang metal-metal yang tahu, hahah)
so...
beberapa waktu setelah penghitungan selesai, gue masih mendengar ledekan-ledekan dari orang sekeliling.
seperti nama gue di ganti menjadi caleg, " caleg mau kemana?" " ah bisa aja caleg nih", atau kalau gue melakukan kesalahan mereka bilang, " aduh.. calek gagal salah mulu. lo stress ya gak kepilih jadi caleg?".
gue tahu, di lubuk hati mereka paling dalam. tidak ada maksud untuk menghina gue. hanya saja gue ingat kata-kata dari teman gue si Gayung. "di balik tawa kita, pasti ada orang yang teraniaya".
gue teraniaya? mungkin kalau orang yang punya perasaan sensitif akan merasa teraniaya atau tersinggung.
kalau gue? sabodo teuing kalo kata akang-akang sunda.
intinya sih, gue muda, 23 tahun (saat itu), dan gue sudah melalukan sesuatu yang belum tentu terpikir oleh anak muda seperti gue.
dan menanggapi percakapan bapak-bapak rumpi tadi, gak apa-apalah jadi "CALEG GAGAL" dari pada jadi "MANUSIA GAGAL" (sedih deh plincess.. :( hehehe)
Thursday, February 5, 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)



