Monday, December 28, 2015

Sens Of Women

banyak yang bilang, gue ini tomboy, slebor, dan cuek.. itu semua bisa dilihat dari sisi luarnya aja, tapi kalau kalian kenal lebih dalam lagi sebenarnya gue bukan sosok seperti itu kok! hahahaa (jadi curcol)

okey gue akan mematahkan asumsi orang-orang, bahwa apa yang kita lihat belum tentu itu kenyataan ( simple-nya "gak semua yang lo lihat itu benar")

"Gue bisa dandan."

kata siapa gue gak bisa dandan? hanya saja gue memiliki habbit yang kurang bagus, yaitu "moody". saat gue malas untuk melakukan apapun, gue bisa pergi keluar rumah tanpa make up sama sekali. tetapi kalau lagi datang mood untuk bersolek, i do it.


ini adalah salah satu contoh hasil karya gue sendiri, meskipun gak terlihat bagus. setidaknya gue gak terlihat seperti ondel-ondel kan? hehehehe


"Gue Bisa Masak"

yup, someday nyokap lagi sakit dan akhirnya tugas beliau menjadi tanggung jawab gue. mulai nyuci piring, masak, hingga ngulek cabe. ( dalam tradisi minang, ulekan sambal bentuknya berbeda seperti biasa. yaitu berbentuk bulat dan lebar dengan batu lado (batu untuk menggiling) berbentuk bulat seperti bola tolak peluru. dan katanya bagi yang tidak biasa menggunakan batu lado itu hasilnya akan berantakan dan tangan penuh dengan cabe. and, i can do it! dengan rapih dan tangan tidak terlalu banyak menepel cabe-cabean yang pedas."

" handeh! pandainyo manggiliang lado!!" (kalo kata orang betawi, "bujug! jago juga die ngulek sambel")
kata salah satu makdang saat melihat gue menggiling cabe hingga beberapa kali.

begitu juga dengan masak, memang diakui gue memang tidak terlalu tertarik dengan dunia masak memasak. tetapi bukan berarti gue gak bisa. sama hal-nya seperti lo bisa naik sepeda, tapi lo jarang naik sepeda.

"gue suka baca fashion review, beauty review"

dibalik sikap gue yang katanya "metal" gue suka banget baca apa saja mengenai fashion and beauty.


itu aja sih curhatan gue, tentang ungkapan orang-orang yang meragukan sisi wanita gue.
dan ini bukan promosi diri ya!!! (jomblo banget nit? hihihihi)

Monday, December 14, 2015

My Way

TAK ADA YANG LEBIH 
NYAMAN DAN MENYENANGKAN,
SAAT LO MELAKUKAN 
APA YANG LO SUKA. 

Sunday, November 8, 2015

Ranai, Angkutan Umum, dan Imajinasi Liar Seorang Anita

Okey, kali ini saya akan membicarakan masalah yang saya hadapi dan kedua orang tua saya hadapi di pulau indah nan eksotik, yaitu Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
tempat yang jauh dimata, namun dekat dihati bagi orang-orang yang pernah mengunjungi pulau yang letaknya paling utara di Indonesia. dulu saya teman saya pernah berkata, "kalau sudah pernah ke Natuna satu kali, maka akan ada kunjungan ke 2, ke 3 dan seterusnya." and i got it, ini kali ke 4 saya menungjungi Negeri Rantau Bertuah Ini. 

Saya tinggal di Keluarahan Ranai Darat, letak rumah bisa dibilang di kaki Gunung Ranai yang selalu kelihatan memesona saat di pagi hari, ketika Gunung tersebut mendapat pantulan sinar matahari. bahkan saat kita membuka mata kita disajikan oleh pemandangan yang tidak akan kita dapatkan di Ibu Kota Jakarta. namun kali ini saya tidak akan membahas potensi alam dan pariwisata yang ada di pulau ini. namun sedikit memiliki korelasi karena yang akan saya bahas merupakan salah satu unsur penting yang seharusnya ada di tempat ini. 

Angkutan Umum, yup karena angkutan umum ini tidak terdapat di pulau ini. yang tersedia hanya ojek yang hanya dapat ditemui di tempat-tempat tertentu seperti pasar. saya pernah melihat sepasang turis berwajah oriental sedang berjalan kaki dari hotel, entah akan pergi kemana. padahal saat itu cuaca dalam keadaan terik, matahari berada tepat diatas kepala. kita tidak tahu memang mereka terbiasa untuk jalan kaki, atau ada hal lain yang mereka alami. seperti terbatasnya budged atau ketidak nyamanan mereka menggunakan fasilitas ojek, karena mereka akan duduk terpisah. 

atau Mama saya yang merasa ruang geraknya terbatas selama ada dipulau ini, hoby-nya yang suka traveling seorang diri menjadi terbatas. meskipun di rumah ada motor, tetapi Mama tidak bisa mengendari sepeda motor tersebut. alhasil, kalau tidak menunggu anak-anaknya pulang kerja, dia akan berdiam diri dirumah saja. 

dulu pemerintah sempat menyediakan angkutan umum, tetapi untuk rute jarak jauh antar Kecamatan yang jaraknya dapat di tempuh hingga 2 jam. namun setelah saya kembali lagi ketempat ini, angkutan umum pemerintah itu sudah berhenti beroperasi dan digantikan oleh pihak swasta yang harganya lumayan berkali lipat lebih mahal. 
sedangkan jarak dekat, kita hanya mengandalkan kendaraan pribadi. 
" andaikan disini ada angkutan umum ya de, mamah bisa jalan-jalan sendiri tanpa nyusahin kalian." 
pernah suatu hari mama nekat pergi seorang diri, harus berjalan kaki agar bertemu ojek dijalan. namun sialnya ia tidak menemukan satupun ojek yang berkeliaran, sampai akhirnya berpapasan dengan tetangga yang mengajak mama untuk naik. dan hal pertama yang ditanyakan oleh tetangga adalah, "anaknya kemana? kok gak diantar?" sejak saat itulah Mama tidak pernah pergi seorang diri, karena stigma negatif yang didapatka anak-anaknya. " lah, kok jadi anak gue yang terkesan durhaka" padahal adakala orang tua yang biasa memiliki mobilitas tinggi, menginginkan sesuatu untuk menyendiri atau memiliki privasi. 

lalu muncullah imaginasi-imaginasi dalam diri saya mengenai angkutan umum, andai saja saya memiliki modal / ada pihak yang memiliki modal dapat merealisasikan agar tersedianya angkutan umum jarak dekat di Pulau ini. 

dan berikut beberapa contoh kendaraan umum, yang sepertinya menarik apabila tersedia di tempat yang potensial akan pariwisatanya:

1. Bentor



Seperti di wilayah Indonesia lain-nya terutama di Daerah Sumatera Utara, kendaraan ini dengan mudah di temui di jalan-jalan kota Medan. kendaraan yang dimodifikasi dari motor dan becak yang dapat di tumpangi oleh 3 orang bertubuh kecil (anak-anak) atau sepasang turis asing seperti yang saya ceritakan diatas. atau cocok untuk mama yang punya hobi baru setelah di belikan handphone dengan kamera semua yang menurutnya bagus akan di foto oleh mamah. apalagi menumpangi Bentor ini dari Ranai Kota sampai Desa Sepempang yang melintasi garis pantai yang Indah akan menambah daya tarik tersendiri. 

2. Tuk-Tuk 




Tuk-Tuk, kendaraan yang bentuknya seperti Bemo kalau di Jakarta, merupakan kendaraan umum yang ada di Negara Thailand. bagi tuk-tuk yang sudah dimodifikasi, kapasitas penumpang akan lebih banyak. apalagi jika tuk-tuk di modifikasi dengan design berwarna cerah sesuai dengan ciri khas masyarakat Natuna yang sangat menyukai warna-warna cerah hal itu dapat dilihat dari bangunan-bangunan rumah yang di cat dengan warna-warna seperti kuning cerah, hijau toska, merah, dan pink. 

3. Trem


Kalau jenis angkutan umum seperti ini sih, a little bit to much.. tapi seru juga kalau daerah pesisir seperti Natuna ini memiliki angkutan umum seperti ini. membuat para wisatawan berbondong-bondong ingin mengunjungi pulau ini (walau harga tiket pesawatnya mencekik kantong). tetapi selama di sajikan dengan hal-hal yang Antimainstream, pasti peminat akan mencari sesuatu yang tidak umum atau tidak ada di tempat asalnya. 


ya! ketiga angkutan umum diatas merupakan hasil khayalan saya selama ada dipulau ini, yang juga merupakan kegundahaan ibu dan anak yang biasa tinggal di kota dengan angkutan umum yang sering bertengkar karena berebut penumpang. 

semoga saja apa yang saya dambakan ini dapat terealisasi suatu hari nanti. 


Monday, October 19, 2015

A Travelling Addict To Be..

Finally, semenjak tinggal di pulau yang tidak membuat diri ini terkuras oleh macetnya ibu kota. saya jadi memiliki waktu luang untuk melakukan sesuatu yang mungkin dulu sangat sulit di lakukan saat di Jakarta.

Yup,, i'm gonna be traveller...

semuanya bermula ketika saya baru pindah di pulau ini, darah yang masih terbiasa dengan kesibukan dan kemacetan seketika di tempatkan pada suasana yang sepi, tanpa kemacetan alhasil saya merasa sedikit jenuh.
oleh karena itu, kakak saya yang sudah lebih lama tinggal di pulau ini menularkan kebiasaannya yaitu pergi jalan-jalan dengan mobilnya.
bermodalkan bensin Rp.100.000,- sudah cukup untuk jalan-jalan. kita memiliki beberapa shift (tsahh.. macam perawat saja ada shift segala hehehe)

Shift 1 : sore / malam hari.

saat-saat genting yaitu setelah Adzan Isya berkumandang, biasanya bila tubuh ini tidak terlalu lelah, acara tv yang membosankan, dan mati lampu (sering banget loh disini mati lampu) kami pergi keluar rumah, entah kemana tujuan kita. sebenarnya terlihat konyol, bahkan sedikit gila. karena penerangan jalan pulau ini masih minim membuat kita terlihat konyol untuk jalan-jalan dimalam hari karena kami tidak dapat melihat apapun kecuali rumah warga yang sudah diberi penerangan, atau lampu jalanan yang hanya tersedia di daerah kota.
biasanya kami menelusuri jalan menuju pantai Tanjung yang melewati jalan sepi penduduk, sehingga hanya kegelapan yang menemani perjalanan kami
lalu untuk apa jalan-jalan?
ya yang penting tidak stay dirumah, pergi keluar rumah, ngobrol sepanjang jalan, mendengarkan lagu-lagu, berita radio (kalau tidak mati lampu) setelah itu pulang kembali ke rumah, masuk kamar, dan bobok cantik.

Shift 2: hari minggu / tanggal merah

ya! sudah seperti kewajiban bagi saya dan keluarga kakak saya untuk jalan-jalan (kecuali kalau cucian menumpuk/ banyak pekerjaan). hampir semua tempat sudah kami jelajahi di pulau Natuna ini kecuali pulau-pulau disekitarnya dikarenakan akomodasi yang masih kurang, menurut kabar sebentar lagi akan disediakan kapal roro antar pulau sehingga kita dapat berwisata ke pulau-pulau tanpa harus meninggalkan mobil di pelabuhan dan sesampainya di pulau kita dapat menggunakan mobil sendiri. ah.. semoga saja cepat terwujud..

yak, travelling dengan mudah menjadi sahabat saya saat ini padahal saya adalah tipe orang yang betah berlama-lama berdiam diri didalam rumah/kamar. tetapi sekarang seperti ada rasa janggal bila waktu libur tidak diisi dengan jalan-jalan. apalagi setelah camera digital saya kembali pulih, hampir kemana pun tempat tak luput dari bidikan kamera digital saya.

apalagi setelah saya memposting foto-foto hasil jepretan saya di Instagram, lah kok keren sih! jadi seperti ada candu didalam diri saya untuk Travelling..

so... i will be traveller meskipun masih ada rasa takut ke tempat tertentu, saya akan mencoba untuk memulainya termasuk keluar pulau, dari Sabang sampai Merauke? why? Why not? hahahaha...


Sunday, October 18, 2015

Black and White Edition : Random

Sometime, we need to make something difference.

why?

coz, life too short to act something bored..

hehehe.. bener gak tuh tulisannya?
intinya,

ada manusia yang diciptakan oleh Tuhan seseorang yang tidak menyukai sesuatu yang berulang - ulang (mudah bosan) dan mereka tidak menyukai pekerjaan yang mengulang dari satu hari ke hari berikutnya.

bukankah hidup terlalu membosankan untuk melakukan sesuatu yang itu-itu saja?

Kadang orang bahkan tidak melihat kita sama sekali, merendahkan dan meremehkan apa yang sedang kita perbuat. di jatuhkan dan di singkirkan tanpa mereka sadari bahwa kita manusia yang memiliki nyawa, perasaan, dan akal.. 

Perlu melewati jalan yang sulit, demi impian menitih jalan terjal bila tidak berhati - hati kita akan terperosk jatuh. 

Diperlukan kaki yang kuat dan kokoh agar kuat menghadapi perjalanan yang panjang, dan medan yang sulit.

menikmati hidup juga perlu dilakukan, agar syaraf-syaraf tegang di tubuh ini merasa rileks, dan menjadi segar kembali dengan ide-ide cemerlang.

 Berlari, bukan menghindar tetapi berlari untuk menggapai kebahagiaan.
Mengawasi diri sendiri, apakah yang kita lakukan sudah sesuai bagi diri. akankah itu membahayakan atau menguntungkan. 

Menjalani hidup itu mudah, namun saat hidup tak di maknai dengan baik akankah nilai esensi dari kehidupan dapat berguna?


Friday, October 16, 2015

Alif Stone Park Natuna Island

Wisata menjelajahi yang menyajikan sebuah pemandangan bebatuan yang besar dan bertebaran dimana-mana, di tempat ini kita bisa menjelajahi satu batu ke batu lainnya yang lebih tinggi dan lebih rendah. namun jangan salah sangka atau menebak bahwa saat ini saya sedang berada di Belitung, tempat para Laskar Pelangi tinggal. 

Nama tempat wisata ini berada di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Namanya Alif Stone Park letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Ranai. di tempat ini kita disajikan oleh pemandangan pantai yang memiliki ombak tenang, juga hamparan batu yang berdiri kokoh. konon, dinamakan Alif Stone karena salah satu batu ini terdapat sebuah batu yang menyerupai huruf Alif dalam Aksara Arab. selain hamparan batu, juga terdapat sebuah pondok yang berdiri tepat di pinggir pantai dari tempat ini juga kita dapat terhubung ke bebatuan yang sudah di buad sedemikian rupa hingga pengunjung dapat melaluinya dengan mudah. 
di pondok ini juga, terdapat beberapa foto kegiatan di tempat ini hingga testimoni dari para selebritis yang pernah mengunjungi tempat wisata ini seperti mantan Putri Indonesia Nadine Chandrawinata dan Ramon Y Tungka, sayangnya foto-foto tersebut terlihat pudar karena di tempel begitu saja.
saya pribadi, sangat menyukai tempat ini. sepertinya tempat ini sangat asik untuk menulis, dengan pemandangan indah, sepi, dan angin pantai membuat inspirasi datang dengan mudah. :)








Alif Stone Park merupakan wisata yang cukup recomended. dilihat dari cara pemilik tempat ini mengelola objek wisata ini dengan baik..
kalau kata mamah sih, dengan konspe objek wisata seperti ini coba di buat restauran denga pemandangan pantai yang indah. pasti kita sering datang tentunya dengan harga yang masih terjangkau :)

berikut cerita liburan Tahun Baru Hijriah yang kami habiskan di tempat wisata ini. sampai jumpa di destinasi lainnya..

Terimakasih
Anita Mayang

Tuesday, October 6, 2015

Merindukan Langit Biru Natuna

Sebelumnya saya sudah pernah membahas mengenai asap pembakaran hutan yang singgah di pulau tempat kami tinggal. karena letak Pulau Natuna berada ditengah-tengah antara Sumatera dan Kalimantan tak pelak kamipun mendapat kiriman dari dua wilayah tersebut. 
Memang yang dirasakan tak separah teman-teman di Riau atau Palangkaraya hanya mengganggu penerbangan selama hampir seminggu lamanya pesawat tak bisa mendarat di Lanud Ranai. Kapal penumpang juga sempat terlambat kedatangannya, sehingga kami mengatakan "Natuna Terisolir" bagi kami yang tidak memilki keperluar di luar pulau kata tersebut hanya seperti guyonan belaka, namun bagi mereka yang memiliki kepentingan di luar pulau pastinya ini sangat mengganggu. 

saya tidak akan membahas mengenai isu yang sedang merebak saat ini, seperti bagaimana sikap pemerintah, atau lain halnya. 

saya hanya sedang merasakan kerinduan, rindu dengan langit Natuna yang biru Sinar Matahari yang menyilaukan dan menghangatkan, lensa kamera yang dapat menangkap keindahan-keindahan Pulau ini. namun, dalam waktu hampir sebulan semuanya tertutup asap langit berwarna putih kelabu, dan kami belum melihat lagi langit yang dihiasi awan-awan beraneka rupa. 

kini, kami belum juga berjumpa dengan langit seperti ini. hampir setiap hari saat mata terbuka, saya selalu melihat keluar jendela rumah dan melihat apakah langit Natuna sudah kembali normal? namun saya belum mendapatkannya hingga saat ini. 

Seperti biasa minggu lalu saya bersama keluarga melakukan traveling ke sebuah tempat yang dinamakan Tanjung Datuk. namun karena di google map tempat tersebut belum terdaftar, sehingga saya tidak dapat memprediksi berapa jarak tempuh dari rumah menuju Tanjung Datuk. 



Pastinya perjalanan yang ditempuh cukup jauh, saat berangkat kami menelusuri pinggir pantai di sebalah kanan sedangkan disebelah kiri masih banyak pepohonan yang sebagian sudah kering namun masih banyak juga pepohonan hijau. seperti yang saya katakan diawal, meskipun kami berangkat disiang hari dimana langit terlihat begitu indah berwarna biru jernih tanpa awan namun pemandangan itu tak terlihat saat itu. karena cuaca tidak dalam keadaam mendung, dan saya berusaha menghibur diri dengan mengatakan bahwa kamera digital saya rusak, atau saya masih belum ahli mengambil gambar. karena saya hanya menggunaka photohop untuk mengedit Contrast dan Brightness-nya saja. tidak ada efek-efek lebih yang di berikan. 





sesampainya di Tanjung Datuk, kami di sajikan sebuah pemandangan yang cukup indah. karena tempat tersebut termasuk tempat ketinggin, dari tempat itulah kita dapat memandang lautan lepas yang untuk kesekian kali saya katakan masih tertutup oleh kabut asap sehingga warna toska yang sering muncul tak terlihat saat itu. 

saya sangat merindukan memandang langit Natuna yang biru dan jernih, dan Asap segera menghilang dari Indonesia. dan Indonesia kembali menjadi cantik seperti biasanya tanpa kabut asap di mana-mana.