Sunday, July 24, 2016

Visit Another Bookstore

Yup, kembali lagi setelah lama gak posting. Dan mulai saat ini gak ada alasan lagi untuk tidak posating.

Okey, gue mau berbagi cerita tentang pengalaman gue mengunjungi toko buku. Semenjak kerja sebagai guru gambar, gue terus mencoba untuk menambah skill menggambar yang gue miliki dan berbarengan dengan itu gue harus memiliki beberapa alat gambar yang notabene adalah milik gue pribadi, "bukan fasilitas kantor" hehhehee..
So,, mulailah gue berburu drawing pen, sketch book, dan lain-lain.
Dan ulalala,,, ternyata benda-benda itu gak murah. Apalagi di toko buku yang melegenda dan hampir ada dimana-mana (you knowlah maksud i, itu loh yang logonya warna merah dan biru)

Dan gue mau mencoba di toko buku lain yang gue pikir harganya agak lebih miring. Toko buku itu ada disekitar bintaro sektor 3a. Dari luar sih kelihatan besar dan tinggi, dan benar aja toko itu ada 3 lantai, dengan lantai 1 tersusun alat tulis, alat lukis, dan buku tulis, sementara di lantai 2 ada alat tulis kantor, dan di lantai 3 kalau gak salah sih tas anak-anak.

Gue berharap bisa belanja banyak hari itu, karena ekapektasi gue tempat ini harganya lebih murah. Dan engingeng, ternyata sama aja. Bahkan cenderung agak mahal di beberapa jenis barang dagangnya (maklum, saya mantan purchasing jadi harga seperak agak kepikiran). Dan juga untuk alat lukis gak terlalu lengkap, okey gue berasumsi bahwa ini adalah toko buku, bukan toko alat lukis.

Entah kenapa gue merasa pencahayaan disana agak remang-remang, dan juga agak berantakan (mungkin karena pulang kerja, jadi sumpek)
Terus barang-barangnya agak berdebu, apa cuma perasaan gue aja? Karena keluar dari toko itu, tangan gue tebel dan hidung perih. Mungkin hidung gue terlalu sensitif?? I don't know...

Jadilah gue cuma beli beberapa barang yang memang perlu banget, walau banyak barang-barang yang berteriak horor minta di bawa pulang.

Dan yang paling menyebalkan gue belanja di tempat ini adalah, gue susah pulang. Karena sudah agak malam, angkot yang langsung ke rumah udah gak ada. Dan bikin tambah kesel lagi adalah, gue salah masukin lokasi pick up. Ternyata toko buku ini juga ada di sektor 9. Bodohnya beberapa kali order selalu salah. Dududadada.... Gue nunggu sejam lebih demi mendapatkan ojek online.. (Kezellll)

Sekian curhatan gue hari ini, semua tulisan saya adalah hasil dari asumsi diri saya sendiri. Jadi, so sorry dori stroberry kalau ada yang gak sepaham dengan saya.

Saturday, April 23, 2016

aku kembali "lagi"

Finally! Setelah sekian lama gak update blog ini. Sepi macam kuburan, ada sudah jamuran?? Hahhahaa..

Don't be sad!! I'll be back soon!! Dengan cerita dan drama-drama kehidupan yang lebay dan nyinyir.  Hahahahah

Monday, December 28, 2015

Sens Of Women

banyak yang bilang, gue ini tomboy, slebor, dan cuek.. itu semua bisa dilihat dari sisi luarnya aja, tapi kalau kalian kenal lebih dalam lagi sebenarnya gue bukan sosok seperti itu kok! hahahaa (jadi curcol)

okey gue akan mematahkan asumsi orang-orang, bahwa apa yang kita lihat belum tentu itu kenyataan ( simple-nya "gak semua yang lo lihat itu benar")

"Gue bisa dandan."

kata siapa gue gak bisa dandan? hanya saja gue memiliki habbit yang kurang bagus, yaitu "moody". saat gue malas untuk melakukan apapun, gue bisa pergi keluar rumah tanpa make up sama sekali. tetapi kalau lagi datang mood untuk bersolek, i do it.


ini adalah salah satu contoh hasil karya gue sendiri, meskipun gak terlihat bagus. setidaknya gue gak terlihat seperti ondel-ondel kan? hehehehe


"Gue Bisa Masak"

yup, someday nyokap lagi sakit dan akhirnya tugas beliau menjadi tanggung jawab gue. mulai nyuci piring, masak, hingga ngulek cabe. ( dalam tradisi minang, ulekan sambal bentuknya berbeda seperti biasa. yaitu berbentuk bulat dan lebar dengan batu lado (batu untuk menggiling) berbentuk bulat seperti bola tolak peluru. dan katanya bagi yang tidak biasa menggunakan batu lado itu hasilnya akan berantakan dan tangan penuh dengan cabe. and, i can do it! dengan rapih dan tangan tidak terlalu banyak menepel cabe-cabean yang pedas."

" handeh! pandainyo manggiliang lado!!" (kalo kata orang betawi, "bujug! jago juga die ngulek sambel")
kata salah satu makdang saat melihat gue menggiling cabe hingga beberapa kali.

begitu juga dengan masak, memang diakui gue memang tidak terlalu tertarik dengan dunia masak memasak. tetapi bukan berarti gue gak bisa. sama hal-nya seperti lo bisa naik sepeda, tapi lo jarang naik sepeda.

"gue suka baca fashion review, beauty review"

dibalik sikap gue yang katanya "metal" gue suka banget baca apa saja mengenai fashion and beauty.


itu aja sih curhatan gue, tentang ungkapan orang-orang yang meragukan sisi wanita gue.
dan ini bukan promosi diri ya!!! (jomblo banget nit? hihihihi)

Monday, December 14, 2015

My Way

TAK ADA YANG LEBIH 
NYAMAN DAN MENYENANGKAN,
SAAT LO MELAKUKAN 
APA YANG LO SUKA. 

Sunday, November 8, 2015

Ranai, Angkutan Umum, dan Imajinasi Liar Seorang Anita

Okey, kali ini saya akan membicarakan masalah yang saya hadapi dan kedua orang tua saya hadapi di pulau indah nan eksotik, yaitu Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
tempat yang jauh dimata, namun dekat dihati bagi orang-orang yang pernah mengunjungi pulau yang letaknya paling utara di Indonesia. dulu saya teman saya pernah berkata, "kalau sudah pernah ke Natuna satu kali, maka akan ada kunjungan ke 2, ke 3 dan seterusnya." and i got it, ini kali ke 4 saya menungjungi Negeri Rantau Bertuah Ini. 

Saya tinggal di Keluarahan Ranai Darat, letak rumah bisa dibilang di kaki Gunung Ranai yang selalu kelihatan memesona saat di pagi hari, ketika Gunung tersebut mendapat pantulan sinar matahari. bahkan saat kita membuka mata kita disajikan oleh pemandangan yang tidak akan kita dapatkan di Ibu Kota Jakarta. namun kali ini saya tidak akan membahas potensi alam dan pariwisata yang ada di pulau ini. namun sedikit memiliki korelasi karena yang akan saya bahas merupakan salah satu unsur penting yang seharusnya ada di tempat ini. 

Angkutan Umum, yup karena angkutan umum ini tidak terdapat di pulau ini. yang tersedia hanya ojek yang hanya dapat ditemui di tempat-tempat tertentu seperti pasar. saya pernah melihat sepasang turis berwajah oriental sedang berjalan kaki dari hotel, entah akan pergi kemana. padahal saat itu cuaca dalam keadaan terik, matahari berada tepat diatas kepala. kita tidak tahu memang mereka terbiasa untuk jalan kaki, atau ada hal lain yang mereka alami. seperti terbatasnya budged atau ketidak nyamanan mereka menggunakan fasilitas ojek, karena mereka akan duduk terpisah. 

atau Mama saya yang merasa ruang geraknya terbatas selama ada dipulau ini, hoby-nya yang suka traveling seorang diri menjadi terbatas. meskipun di rumah ada motor, tetapi Mama tidak bisa mengendari sepeda motor tersebut. alhasil, kalau tidak menunggu anak-anaknya pulang kerja, dia akan berdiam diri dirumah saja. 

dulu pemerintah sempat menyediakan angkutan umum, tetapi untuk rute jarak jauh antar Kecamatan yang jaraknya dapat di tempuh hingga 2 jam. namun setelah saya kembali lagi ketempat ini, angkutan umum pemerintah itu sudah berhenti beroperasi dan digantikan oleh pihak swasta yang harganya lumayan berkali lipat lebih mahal. 
sedangkan jarak dekat, kita hanya mengandalkan kendaraan pribadi. 
" andaikan disini ada angkutan umum ya de, mamah bisa jalan-jalan sendiri tanpa nyusahin kalian." 
pernah suatu hari mama nekat pergi seorang diri, harus berjalan kaki agar bertemu ojek dijalan. namun sialnya ia tidak menemukan satupun ojek yang berkeliaran, sampai akhirnya berpapasan dengan tetangga yang mengajak mama untuk naik. dan hal pertama yang ditanyakan oleh tetangga adalah, "anaknya kemana? kok gak diantar?" sejak saat itulah Mama tidak pernah pergi seorang diri, karena stigma negatif yang didapatka anak-anaknya. " lah, kok jadi anak gue yang terkesan durhaka" padahal adakala orang tua yang biasa memiliki mobilitas tinggi, menginginkan sesuatu untuk menyendiri atau memiliki privasi. 

lalu muncullah imaginasi-imaginasi dalam diri saya mengenai angkutan umum, andai saja saya memiliki modal / ada pihak yang memiliki modal dapat merealisasikan agar tersedianya angkutan umum jarak dekat di Pulau ini. 

dan berikut beberapa contoh kendaraan umum, yang sepertinya menarik apabila tersedia di tempat yang potensial akan pariwisatanya:

1. Bentor



Seperti di wilayah Indonesia lain-nya terutama di Daerah Sumatera Utara, kendaraan ini dengan mudah di temui di jalan-jalan kota Medan. kendaraan yang dimodifikasi dari motor dan becak yang dapat di tumpangi oleh 3 orang bertubuh kecil (anak-anak) atau sepasang turis asing seperti yang saya ceritakan diatas. atau cocok untuk mama yang punya hobi baru setelah di belikan handphone dengan kamera semua yang menurutnya bagus akan di foto oleh mamah. apalagi menumpangi Bentor ini dari Ranai Kota sampai Desa Sepempang yang melintasi garis pantai yang Indah akan menambah daya tarik tersendiri. 

2. Tuk-Tuk 




Tuk-Tuk, kendaraan yang bentuknya seperti Bemo kalau di Jakarta, merupakan kendaraan umum yang ada di Negara Thailand. bagi tuk-tuk yang sudah dimodifikasi, kapasitas penumpang akan lebih banyak. apalagi jika tuk-tuk di modifikasi dengan design berwarna cerah sesuai dengan ciri khas masyarakat Natuna yang sangat menyukai warna-warna cerah hal itu dapat dilihat dari bangunan-bangunan rumah yang di cat dengan warna-warna seperti kuning cerah, hijau toska, merah, dan pink. 

3. Trem


Kalau jenis angkutan umum seperti ini sih, a little bit to much.. tapi seru juga kalau daerah pesisir seperti Natuna ini memiliki angkutan umum seperti ini. membuat para wisatawan berbondong-bondong ingin mengunjungi pulau ini (walau harga tiket pesawatnya mencekik kantong). tetapi selama di sajikan dengan hal-hal yang Antimainstream, pasti peminat akan mencari sesuatu yang tidak umum atau tidak ada di tempat asalnya. 


ya! ketiga angkutan umum diatas merupakan hasil khayalan saya selama ada dipulau ini, yang juga merupakan kegundahaan ibu dan anak yang biasa tinggal di kota dengan angkutan umum yang sering bertengkar karena berebut penumpang. 

semoga saja apa yang saya dambakan ini dapat terealisasi suatu hari nanti. 


Monday, October 19, 2015

A Travelling Addict To Be..

Finally, semenjak tinggal di pulau yang tidak membuat diri ini terkuras oleh macetnya ibu kota. saya jadi memiliki waktu luang untuk melakukan sesuatu yang mungkin dulu sangat sulit di lakukan saat di Jakarta.

Yup,, i'm gonna be traveller...

semuanya bermula ketika saya baru pindah di pulau ini, darah yang masih terbiasa dengan kesibukan dan kemacetan seketika di tempatkan pada suasana yang sepi, tanpa kemacetan alhasil saya merasa sedikit jenuh.
oleh karena itu, kakak saya yang sudah lebih lama tinggal di pulau ini menularkan kebiasaannya yaitu pergi jalan-jalan dengan mobilnya.
bermodalkan bensin Rp.100.000,- sudah cukup untuk jalan-jalan. kita memiliki beberapa shift (tsahh.. macam perawat saja ada shift segala hehehe)

Shift 1 : sore / malam hari.

saat-saat genting yaitu setelah Adzan Isya berkumandang, biasanya bila tubuh ini tidak terlalu lelah, acara tv yang membosankan, dan mati lampu (sering banget loh disini mati lampu) kami pergi keluar rumah, entah kemana tujuan kita. sebenarnya terlihat konyol, bahkan sedikit gila. karena penerangan jalan pulau ini masih minim membuat kita terlihat konyol untuk jalan-jalan dimalam hari karena kami tidak dapat melihat apapun kecuali rumah warga yang sudah diberi penerangan, atau lampu jalanan yang hanya tersedia di daerah kota.
biasanya kami menelusuri jalan menuju pantai Tanjung yang melewati jalan sepi penduduk, sehingga hanya kegelapan yang menemani perjalanan kami
lalu untuk apa jalan-jalan?
ya yang penting tidak stay dirumah, pergi keluar rumah, ngobrol sepanjang jalan, mendengarkan lagu-lagu, berita radio (kalau tidak mati lampu) setelah itu pulang kembali ke rumah, masuk kamar, dan bobok cantik.

Shift 2: hari minggu / tanggal merah

ya! sudah seperti kewajiban bagi saya dan keluarga kakak saya untuk jalan-jalan (kecuali kalau cucian menumpuk/ banyak pekerjaan). hampir semua tempat sudah kami jelajahi di pulau Natuna ini kecuali pulau-pulau disekitarnya dikarenakan akomodasi yang masih kurang, menurut kabar sebentar lagi akan disediakan kapal roro antar pulau sehingga kita dapat berwisata ke pulau-pulau tanpa harus meninggalkan mobil di pelabuhan dan sesampainya di pulau kita dapat menggunakan mobil sendiri. ah.. semoga saja cepat terwujud..

yak, travelling dengan mudah menjadi sahabat saya saat ini padahal saya adalah tipe orang yang betah berlama-lama berdiam diri didalam rumah/kamar. tetapi sekarang seperti ada rasa janggal bila waktu libur tidak diisi dengan jalan-jalan. apalagi setelah camera digital saya kembali pulih, hampir kemana pun tempat tak luput dari bidikan kamera digital saya.

apalagi setelah saya memposting foto-foto hasil jepretan saya di Instagram, lah kok keren sih! jadi seperti ada candu didalam diri saya untuk Travelling..

so... i will be traveller meskipun masih ada rasa takut ke tempat tertentu, saya akan mencoba untuk memulainya termasuk keluar pulau, dari Sabang sampai Merauke? why? Why not? hahahaha...


Sunday, October 18, 2015

Black and White Edition : Random

Sometime, we need to make something difference.

why?

coz, life too short to act something bored..

hehehe.. bener gak tuh tulisannya?
intinya,

ada manusia yang diciptakan oleh Tuhan seseorang yang tidak menyukai sesuatu yang berulang - ulang (mudah bosan) dan mereka tidak menyukai pekerjaan yang mengulang dari satu hari ke hari berikutnya.

bukankah hidup terlalu membosankan untuk melakukan sesuatu yang itu-itu saja?

Kadang orang bahkan tidak melihat kita sama sekali, merendahkan dan meremehkan apa yang sedang kita perbuat. di jatuhkan dan di singkirkan tanpa mereka sadari bahwa kita manusia yang memiliki nyawa, perasaan, dan akal.. 

Perlu melewati jalan yang sulit, demi impian menitih jalan terjal bila tidak berhati - hati kita akan terperosk jatuh. 

Diperlukan kaki yang kuat dan kokoh agar kuat menghadapi perjalanan yang panjang, dan medan yang sulit.

menikmati hidup juga perlu dilakukan, agar syaraf-syaraf tegang di tubuh ini merasa rileks, dan menjadi segar kembali dengan ide-ide cemerlang.

 Berlari, bukan menghindar tetapi berlari untuk menggapai kebahagiaan.
Mengawasi diri sendiri, apakah yang kita lakukan sudah sesuai bagi diri. akankah itu membahayakan atau menguntungkan. 

Menjalani hidup itu mudah, namun saat hidup tak di maknai dengan baik akankah nilai esensi dari kehidupan dapat berguna?